7 Mahasiswa Tepa AK. Pengolahan susu sapi PKL di kota padang panjang-Humas AK, (12/3/2018)
Humas AK-. Praktek Kerja Lapang (PKL) Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Pangan (Tepa) di Usaha Pengolahan Susu Ibu Farm Kota Padang Panjang Provinsi Sumatra Barat itu, telah berlangsung selama tiga minggu lebih. Sejak dimulai pada 18 Februari 2018 lalu. Irmayanti salah satu dari tujuh Mahasiswa Prodi Tepa Pkl itu mengungkapkan beberapa kegiatan mereka selama di tempat tersebut. Pemberian makan sapi kami lakukan pada pukul 07.15 pagi. Makanan sapi menurut irma sangat mewah seperti Roti tawar. Ini dilakukan agar sapi menghasilkan banyak susu. "Makannya pagi sekitar jam tujuhan diberi pelet roti tawar ampas tahu dan konsentrat serta mineral jika diperlukan saja, lalu diberi rumput" ungkapnya. Senin (12/3)
Tempat pemerahan dan pengolahan menurutnya berdekatan. Hanya berjarak kurang lebih puluhan meter. Bagian pengolahan ini nantinya sebagai tempat keluarnya hasil olahan susu untuk dipasarkan di berbagai macam daerah diwilayah Kota Padang Panjang dan juga sampai di daerah luar Kota. Meski dia masih pada tahap pemerahan susu tetapi irma dapat sekali-kali melihat kegiatan di bagian pengolahan susu tersebut. "dalam tiga minggu lebih ini saya masih di bagian pemerahan susu tapi kedepannya saya akan dipindahkan di bagian pengolahan susu dan sampai seterusnya" tungkasnya.
Irma mengatakan produk olahan susu itu dapat berupa Yugourt, Kevir, Stik Susu, Karamel Susu, Eskrim Susu dan Susu Pasteurisasi beraneka rasa. Dan sesui dengan judul rekan lain Pkl Mahasiswa Prodi Tepa Program Diluar Domisili Rintisan Akademi Komunitas Negeri Mentawai. Mahasiswa Tepa itu berharap dapat menerapkan Ilmu di Kota Padang Panjang itu pada Kampung halamannya di Kabupaten Kepulauan Mentawai Khususnya di Kecamatan Siberut Utara sebagai tempat pengolahan susu sapi dengan olahan Stik Susu agar dapat dipasarkan di kampung sendiri."Selama ini kita hanya membeli dari luar kabupaten kepulauan mentawai, dan ini saatnya kita akan menjadi penghasil produk makanan di kampung sendiri" pungkasnya Irmayanti Sapopongut. (A/Er)
